MEKANISME PASAR DAN REGULASI HARGA MENURUT IBNU TAIMIYAH

I. Latar Belakang

Pasar adalah jantung perekonomian bangsa. Maju mundurnya perekonomian sangat bergantung kepada kondisi pasar. Ia mempertemukan pihak penjual dan pembeli, untuk melakukan transaksi atas barang dan jasa (supply dan demand). Al-Ghozali dalam kitab ihya’ menjelaskan tentang sebab timbulnya pasar “Dapat saja petani hidup dimana alat-alat pertanian tidak tersedia. Sebaliknya, pandai besi dan tukang kayu hidup dimana lahan pertanian tidak ada. Namun, secara alami mereka akan saling memenuhi kebutuhan maisng-masing. Dapat saja terjadi tukang kayu membutuhkan makanan, tetapi petani tidak membutuhkan alat-alat tersebut. Keadaan ini menimbulkan masalah. Oleh karena itu, secara alami pula orang akan terdorong untuk menyediakan tempat enyimpanan alat-alat di satu pihak, dan penyimpanan hasil pertanian di pihak lain. Tempat inilah yang kemudian didaatangi pembeli sesuai kebutuhannya masing-masing sehingga terbentuklah pasar…”

Keseimbangan dalam supply dan demand sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan ekonomi. Surplus supply dapat merugikan produsen karena barangnya tidak terserap oleh pasar. Sebaliknya, demand berlebih tanpa diiringi produksi yang memadai akan mendorong peningkatan harga, dan bila terus berlanjut akan mengurangi kesejahteraan masyarakat sebagai konsumen. Great Depression 1930 an merupakan saksi sejarah bagaimana jumlah penawaran yang berlebih menjadi penyebab utama kelesuan ekonomi. Para produsen banyak yang gulung tikar, jutaan pekerja menganggur.

Menyadari urgensi pasar, banyak tokoh yang mencurahkan perhatiannya pada hal ini. Aliran merkantilis mencari keuntungan perdagangan melalui proteksi produk luar dengan pemberlakuan tariff impor yang mahal dan penjajahan terhadap Negara-negara lemah Asia- Afrika. Pada 1776, Adam Smith melalui karya fenomenalnya the Wealth of Nation, mengungkapkan bahwa system pasar yang paling tepat adalah mechanisme pasar bebas. Pemerintah tidak mempunyai wewenang untuk mengatur pasar. Biarkan pasar berjalan, dan akan ada suatu invisible Hand (tangan tak terlihat) yang mengarahkan pada keseimbangan (Mark Skousen).

Teori ini mendapat kritikan tajam dari Karl Max (Didin Damanhuri). Karl Max menyebutkan bahwa system liberal merupakan proses pemiskinan dan proletarisasi massa oleh kaum borjousi lewat transfer nilai surplus produksi (teori surplus values). Dalam karyanya, The communist Manifesto, ia memasukkan sepuluh program untuk mewujudkan keadilan ekonomi yang semuanya mengarah kepada sentralisasi property di tangan Negara dan kesetaraan seluruh warga negara.

Berbagai teori dikemukakan untuk menjalankan fungsi pasar sebagai roda perekonomian. Namun, sudahkah perekonomian dewasa ini menggapai kesejahteraan yang adil? Menurut data Bank Indonesia, angka “gini ratio” Indonesia terus bertambah dari 0,288 pada 2002 menjadi 0,340 pada 2005 dan naik menjadi 0,345 pada 2006 berarti tingkat kesenjangan ekonomi Indonesia sangat besar. Dan bila dibandingkan dengan Negara maju, nilai pasar kita masih sangat rendah.

Islam adalah agama samawi yang membawa kemaslahatan dunia akhirat. Islam memiliki pandangan dan pemikiran yang berbeda tentang mekanisme pasar. Pemikiran ini mendahului apa yang diungkapkan oleh para pemikir barat. Pada masa itu, umat Islam menggapai kejayaan yang tak pernah diraih oleh peradaban lain, masa keemasan yang dianggap sebagai “the Dark Age” oleh Barat. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mempelajari bagaimana pandangan Tokoh-tokoh muslim tentang pasar. Namun, seiring dengan byaknya jumlah pemikir ekonom muslim, maka penulis membatasi penitian ini kepada pandangan Ibnu Taimiyah?

II. Rumusan Masalah

• Mengetahui Pandangan ibnu taimiyah tentang mekanisme pasar?

• Mengetahui pandangan ibnu taimiyah tentang regulasi harga?

III. Literatur Review

III. 1. Definisi Pasar dan Pembentukannya

Pasar atau Market adalah tempat dimana pembeli dan penjual barang tertentu berhubungan satu sama lain dan dimana terjadi hubungan tukar-menukar. (Winardi, Kamus Ekonomi).

Al-Ghozali dalam kitab ihya’ (LP3EI, Ekonomi Islam) menjelaskan tentang sebab timbulnya pasar “Dapat saja petani hidup dimana alat-alat pertanian tidak tersedia. Sebaliknya, pandai besi dan tukang kayu hidup dimana lahan pertanian tidak ada. Namun, secara alami mereka akan saling memenuhi kebutuhan maisng-masing. Dapat saja terjadi tukang kayu membutuhkan makanan, tetapi petani tidak membutuhkan alat-alat tersebut. Keadaan ini menimbulkan masalah. Oleh karena itu, secara alami pula orang akan terdorong untuk menyediakan tempat penyimpanan alat-alat di satu pihak, dan penyimpanan hasil pertanian di pihak lain. Tempat inilah yang kemudian didatangi pembeli sesuai kebutuhannya masing-masing sehingga terbentuklah pasar…”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pasar adalah tempat yang menampung hasil produksi dan menjualnya kepada mereka yang membutuhkan. Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa pasar timbul dari adanya double coincidence yang sulit bertemu. Maka, Untuk memudahkan adanya tukar-menukar dalam memenuhi kebutuhan diciptakanlah pasar.

III.1. Mekanisme Pasar Dalam Pandangan Ulama Islam

Abu Yusuf dalam kitab al-Kharraj (Adiwarman, Ekonomi Mikro Islami)

“tidak ada batasan tentang murah dan mahal yang dapat dipastikan. Hal tersebut ada yang mengaturnya. Prinsipnya tidak bisa diketahui. Murah bukan karena melimpahnya makanan, demikian juga mahal tidak disebabkan oleh kelangkaan makanan. Murah dan mahal merupakan ketentuan Allah. Terkadang makanan berlimpah tetapi tetap mahal, dan terkadang makan sangat sdikit tetapi murah.”

Pernyataan ini membantah kesan masyarakat kala itu bahwa penawaran bukanlah satu-satunya factor penentu harga. Beliau mengungkapkan ada berbagai factor lain yang terkait dalam mempengaruhi tingkat harga.
Faktor lain ini sedikit tersigkap dalam pandangan Ghozali di beberapa pragraf dalam tulisannya:

“Jika petani tidak mendapatkan pembeli dan barangnya, ia akan menjualnya pada harga yang lebih murah”.(Al-Ihya’)

Disini Ghozali, mengakui adanya factor permintaan yang mempengaruhi terhadap harga selain factor produksi. Al-Ghozali juga memahami konsep elastisitas permintaan dalam tulisannya:

“Mengurangi margin keuntungan dengan menjual pada harga yang lebih murah akan meningkatkan volume penjualan dan ini pada gilirannya akan meningkatkan keuntungan.”

Bahkan ia telah pula mengidentifikasikan produk makanan sebagai komoditas dengan kurva permintaan yang inelastis (adiwarman).

“Karena makanan adalah kebutuhan pokok, perdagangan makanan harus seminimal mungkin didorong oleh motif mencari kuntungan untuk menghindari eksploitasi melalui pngenaan harga yang tinggi dan keuntungan yang besar. Keuntungan semacam ini seyogyanya dicari dari barang-barang yang bukan merupakan kebutuhan pokok.”

III.3. Mekanisme Pasar Dalam Pandangan Ekonomi Konvensional

Adam Smith dalam the wealth of Nation:

“Dengan cara mengarahkan produksi, hal ini dapat menggerakkan produksi yang mampu menghasilkan nilai yang paling besar, padahal dia hanya meniatkannya untuk keuntungan dirinya sendiri, dan yang demikian,,, digerakkan oleh tangan yang tak kentara yang mengarahkannya kepada batas yang tidak ia kehendaki.”

Secara singkat Smith mengungkapkan bahwa walaupun setiap orang mengerjakan sesuatu didasarkan kepada kepentingan pribadi, tetapi hasilnya akan lebih efektif dan selaras dengan tujuan masyarakat. Dampak aktivitas setiap individu dalam mengejar kepentingannya masing masing terhadap kemajuan masyarakat, justru lebih baik dibanding dengan tiap orang berusaha untuk memajukan masyarakat. Niat baik pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat seringkali berbanding terbalik dengan realita yang terjadi.

Smith menentang adanya pembatasan perdagangan. Usaha untuk menyeimbangkan perdagangan adalah “absurd”. Kebijakan mrkantilis hanya menghasilkan kemakmuran dan keunungan bagi produsen dan pemegang monopoli saja. Karena merkantilisme tidak menguntungkan konsumen, maka merkantilisme bersifat anti pertumbuhan dan dangkal. (Mark Skousen)

Marx Dan Komunisme

Marx merupakan penentang keras dari mekanisme pasar bebas yang diungkapkan oleh Adam Smith. Ada tiga hal yang menjadi alasannya (Delliarnov):

1. Dalam ekonomi. Laissez faire mendorong adanya surplus value dan penguasaan kekayaan oleh segelintir orang. Buruh diperas tenaganya dengan upah minimum.
2. Dalam psikologi. Menimbulkan adanya pertentangan antara kelas tuan tanah dan buruh
3. Dalam social. Masyarakat terpecah menjadi kelas tuan tanah dan buruh.

Marx berusaha untuk menggeser system ini dengan cara revolusi. The communist manifesto memasukkan sepuluh program Marx dan Engels:

1. Penghapusan property tanah dan aplikasi semua sewa tanah demi tujuan public
2. pajak pendapatan yang progresif atau bertahap.
3. penghapusan semua hak warisan.
4. penyitaan property dari semua emigrn dan pemberontak
5. sentralisasi kredit di tangan Negara dengan menggunakan bank nasional dengan modal Negara dan monopoli ekslusif
6. sentralisasi alat-alat komunikasi dan transportasi di tangan Negara.
7. perluasa pabrik-pabrik dan alat-alat produksi milik Negara: menanami tanah yang mnganggur, dan meningkatkan kesuburan tanah secara umum sesuai dengan rencana bersama.
8. kwajiban yang setara bagi semua untuk bekerja. Pembentukan tentara industrial, khususny untuk pertanian
9. kombinasi agrikultur dengan industri manufaktur, penghapusan bertahap perbedaan antaa kota dan desa, dengan distribusi yang lebih seimbang kepada seluruh penduduk negeri.
10. pendidikan bebas untuk anak-anak di sekolah public. Penghapusan tenaga kerja anak-anak di pabrik. Kombinasi pendidikan dengan produksi industri, dan seterusnya.

Ekonomi Pasar Sosial

Gagasan utama yang diusung oleh pnganut aliran Neo-Liberal atau ordo liberal, menurut kelompok para ahli hukum dan ekonomi yang tergabung dalam Madzhab Freibug seperti Wilhem Ropke, Walter Eucken dan yang lainnya, adalah apa yang disebut dengan ekonomi psar sosial (social market economy), yaitu:

Sebuah system ekonomi yang bebas, namun dijaga dengan berbagai regulasi yang diicptakan untuk mencegah konsentrasi kekuasaaan ekonomi yang biasanya terjadi dalam bentuk kartel, monoppli (trust) dan pengaruh perusahaan-perusahaan raksasa. Regulasi dalam konsep Neo-Liberal sangat penting untuk menjaga agar kinerja pasar tetap kompetitif dan adil. Maka gagasan dalam Neo Liberal atau ekonomi pasar sosial menurut Bohm, di satu pihak memerangi kekuasaan sektor public maupun privat atas pasar; di lain pihak memerangi pasar bebas tanpa regulasi maupun kecendrungan perencanaan yang otoriter.

Dalam hal ini, mereka mempunyai beberapa pemahaman filosofis yang dijadikan pijakan atau dasar pemikiran (Findi, perbandingan Sistem Ekonomi):

Pertama, gagasan anti-naturalistik tentang pasar dan kompetisi. Artinya, menurut mereka pasar (market) bukanlah gejala alami seperti gempa bumi atau musim semi, dengan hukum-hukum alaminya yang berlaku.

Kedua, konsep Neo Liberal yang menolak konsep sejarah yang mendasarkan perubahan sosial hanya pada proses-proses perubahan ekonomi kapitalis, seperti dalam dua ideologi besar yang nampaknya begitu bertentangan: Marxisme Ortodoks dan Neoliberalisme dalam pengertian dewasa ini. Bagi kaum Neo-Liberal sejarah kapitalis adalah sejarah institusional-ekonomi. Menurut mereka, antara ekonomi dan infastruktur sosial terjadi hubungan sebab akibat yang timbale balik.

Ketiga, kinerja kapitalisme tidak seharusnya didasarkan kepada logika modal (capital), karena transaksi ekonomi hanyalah salah satu bentuk relasi sosial. Hubungan-hubungan sosial manusia hadir bukan untuk mengabdi pada kapitalisme, melainkan kapitalisme hadir untuk mmbantu berlangsungnya relasi sosial manusia. Karena bukan sebagai gejala alami, maka konsentrasi kekuasaan bisnis, monopoli, dan kartel hanya bisa dicegah dan didekati dengan politik kebijakan sosial. Disinilah letak pentingnya berbagai kebijakan system kesejahteraan (welfare system).

Keempat, di samping tujuan dari kebijakan sosial adalah pencegah kesenjangan kekuasaan yang tajam, juga untuk menciptakan dan memperluas etos kewirausahaan (entrepreneurship) dalam masyarakat. Kebijakan sosial itu dianggap sebagai prasyarat mutlak bagi bekerjanya ekonomi yang adil dan kompetitif serta terciptanya bentuk kewirausahaan di dalam masyarakat.

Prinsip Dalam pasar social:

1. Prinsip Individualitas: yang bertujuan pada ideal liberal bagi kebebasan individu.

2. Prinsip Solidaritas: Mengacu pada ide setiap individu manusia terlekat dengan masyarakat yang saling tergantung sama lain dengan tujuan menghapus ketidakadilan.

3. Prinsip subsidiaritas: yang berarti sebuah tugas institusional yang bertujuan menajamkan hubungan antara individualitas dan solidaritas. Aturan tersebut harus memberikan jaminan hak individu dan menempatkannya sebagai prioritas utama, yang berarti apa yang mampu dilakukan oleh individu harus dilakukan oleh individu dan bukan oleh negara.

III.4. Mekanisme Pasar dalam pandangan Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah berkata:

“Naik dan turunnya harga tak selalu berkait dengan kezaliman (zulm) yang dilakukan seseorang. Sesekali, alasannya adalah adanya kekurangan dalam produksi atau penurunan impor dari barang-barang yang iminta. Jadi, jika membutuhkan peningkatan jumlah barang, sementara kemampuannya menurun, harga dengan sendirinya akan naik. Di sisi lain, jika kemampuan penyediaan barang menigkat dan permintaannya menurun, harga akan turun. Kelangkaan dan kelimpahan tak mesti diakibatkan oleh perbuatan seseorang. Bisa saja berkaitan dengan sebab yang tak melibatkan ketidakadilan. Atau, sesekali, bisa juga disebabkan ketidak adilan. Maha Besar Allah, yang menciptakaan kemauan pada hati manusia….(Ibnu Taimiyah, Majmu’ fatawa) dikutip dari A.A Islahi.

Ungkapan ini menunjukkan bahwa ada kebiasaan yang berlaku di zaman ibnu Taimiyah bahwa kenaikan harga seringkali diakibatkan oleh ketidakadilan para pelaku pasar. Pandangan ini ditolak oleh ibnu Taimiyah dengan mengungkapkan bahwa kenaikan harga tidak selamanya disebabkan zulm (ketidakadilan). Ada factor lain yang mempengaruhinya yakni kekuatan pasar antara supply dan demand.

Dalam kitab Fatawa. Ibnu taimiyah menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan: (ekonomi Islam) dan konsekuensinya terhadap harga:

1. Ar-Raghabah (keinginan) atas barang-barang berbeda dan seringkali berubah. Hal ini turut dipengaruhi oleh berlimpah atau langkanya suatu barang. Semakin langka semakin ia diminati oleh masyarakat.

Dalam konvensional factor ini dikenal dengan istilah preference (minat).

2. Jumlah orang yang meminta. Semakin banyak orang yang meminta dalam satu jenis barang dagangan, maka semakin mahal harga barang

3. kuat atau lemahnya permintaan. Kebutuhan tinggi dan kuat, harga akan naik lebih tinggi ketimbang jika peningkatan kebutuhan itu kecil atau lemah.

4. kualitas pembeli (al-mu’awid). Harga juga berubah-rubah, sesuai dengan siapa saja transaksi tersebut dilakukah. Pembeli yang memiliki kredibilitas yang buruk, sering bankrut, mengulur-ulur pembayaran akan mendaoatkan harga yang lebih tinggi dari pembeli yang memiliki predikat baik.

5. jenis uang yang digunakan. Harga juga dipengaruhi oleh bentuk alat pembayaran (uang) yang digunakan dalam jual beli. Jika yang digunakan adalah naqd raji, harga akan lebih rendah ketimbang membayar dengan uang yang jarang ada di peredaran.

6. hal diatas dapat terjadi karena tujuan dari suatu transaki harus menguntungkan penjual dan pembeli. Jika pembeli memiliki kemampuan untuk membayar dan dapat memenuhi janjinya, maka transaksi akan lebih mudah/lancar.

7. Aplikasi yang sama berlaku bagi sesorang yang meminjam atau menyewa. Adanya biaya tambahan akan mengakibatkan perubahan harga. Menyewa tanah dalam kondisi banyaknya perampok atau hewan liar akan menambah beban bagi penyewa, sehingga harga sewa lebih rendah dibanding tanah yang tidak membutuhkan biaya tambahan.

III.6. Regulasi harga

Penetapan (regulasi) harga dikenal dalam dunia fiqih dengan istilah tas’ir yang berarti, menetapkan harga tertentu pada barang-barang yang dperjualbelikan dimana tidak mendzalimi pemilik barang dan pembelinya. (Sayyid Sabiq, fiqhus sunnah)

Dalam konsep ekonomi Islam penentuan harga dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pasar yaitu kekuatan permintaan dan penawaran. Dalam konsep Islam, pertemuan permintaan dengan penawaran tersebut haruslah terjadi secara rela sama rela, dalam artian tidak ada pihak yang terpaksa untuk melakukan transaksi pada tingkat harga tertentu. Keadaan rela sama rela merupakan kebalikan dari keadaan aniaya yaitu keadaan dimana salah satu pihak senang diatas kesedihan pihak lainnya. Dalam hal harga, para ahli fiqih merumuskannya sebagai the price of the equivalent (Tsamanul Mitsly)

Perbedaan pandangan tentang regulasi harga bersumber pada perbedaan penafsiran terhadap hadits nabi yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Dia brkata:

“harga mahal pada zaman rasulullah saw, maka para sahabat berkata : Wahai Rasulullah, harga mahal, maka tentukanlah harga untuk kita, maka beliau bersabda: Sesungguhnya lah adalah penentu harga, penahan, pencurah, pemberi rizki. Sesungguhnya aku mngharapkan dapat menemui Tuhanku di mana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kezliman dalam hal arah dan harta. (ibnu Majah, abu dawud)

Ibnu Qudamah:

“Didalamnya menunjukkan penentuan harga adalah mudzlim. Dan jika zhalim maka haram.” (aunul ma’bud).

Ibnu Qudamah: memberikan dua alasan tidak diperkenankannya tas’ir:

1. Rasulullah tidak pernah menetapkan harga, meskipun penduduk menginginkan hal itu.

2. Regulasi harga Adalah sebuah ketidakadilan yang tidak dilarang. Ini melibatkan hak milik seseorang, didalanya setiap orang memiliki hak untuk menjual pada harga berapapun, asal ia bersepakat dengan pembelinya.

Asy-Syaukani berkata:

“Dan Sesungguhnya manusia berkuasa atas harga mereka, maka tas’ir adalah pembatasan bagi mereka. Imam dituntut untuk menjaga maslahat muslimin. Memperhatikan maslahat pembeli dengan menentukan harga rendah tidaklah lebih utama dari memperhatikan maslahat penjual dengan harga tinggi. Dan jika kedua perkara ini bertemu haruslah diserahkan kepada ijtihad mereka masing-masing. Adapun mewajibkan pemilik barang untuk menjual pada harga yang tidak ia ridhoi adalah bertentangan dengan firman Allah surat Annisa 29:

إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم

Dalam kondisi normal, semua ulama sepakat akan haramnya melakukan tas’ir, namun dalam kondisi ketidakadilan terdapat perbedaan pandangan ulama. Imam Malik dan sebagian syafiiyah memperbolehkan tas’ir dalam keadaan ghola’. Kontroversi antar para ulama berkisar dua poin: pertama. Jika terjadi harga yang tinggi di pasaran dan seseorang berusaha menetapkan harga yang lebih tinggi ketimbang harga sebenarnya, menurut madzhab maliki harus dihentikan. Tetapi, bila para penjual mau menjual di bawah harga pasar (ceiling price), dua macam pendapat: menurut syafi’I atau penganut Ahmad bin Hanbal mereka tetap menentang berbagai campur tangan pemerintah…”

Point kedua, adalah penetapan harga maksimum pada kondisi normal, ini bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama.

Kesimpulannya:

a. tak seorang pun diperbolehkan menetapkan harga lebih tinggi atau lebih rendah ketimbang harga yang ad. Penetapan harga yang lebih tinggi akan menghasilkan eksploitasi atas kebutuhan penduduk dan penetapan harga yang lebih rendah akan merugikan penjual.

b. Dalam segala kasus, pengawasan atas harga adalah tidak jujur

c. Pengaturang harga selalu diperbolehkan

d. Penetapan harga hanya diperbolehkan dalam keadaan darurat

Menurut Ibnu Taimiyah price intervension dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

· Price intervension yang zalim,

· Price intervension yang adil,

Ibn Taimiyah menjelaskan tiga keadaan dimana price intervension harus dilakukan :

1. Produsen tidak mau menjual barangnya kecuali pada harga yang lebih tinggi daripada regular market price, padahal konsumen membutuhkan barang tersebut. Dalam keadaan ini pemerintah dipaksa untuk memaksa produsen agar mau menjual barangnya dan menentukan harga (price intervension) yang adil

2. Produsen menawarkan pada harga yang terlalu tinggi menurut konsumen, sedangkan konsumen meminta pada harga yang terlalu rendah menurut produsen. Dalam keadaan ini pemerintah bisa menjadi mediator antara produsen dan konsumen, kemudian pemerintah harus mendorong kepada produsen dan konsumen untuk menentukan harga.

3. Pemilik jasa, misalnya tenaga kerja yang menolak bekerja kecuali pada harga yang lebih tinggi daripada harga pasar yang berlaku, sehingga pemerintah dapat melakukan intervensi dengan memaksa pemilik jasa untuk memberikan jasanya

REFERENSI

LP3EI, Ekonomi Islam, RajaGrafindo

Sayyid Sabiq, fiqhus Sunnah, syirkatu manar ad-dauliyah 1995

A.A. Islahi, Konsepsi Ekonomi Ibnu Taimiyah :diterjemahkan oleh H. Anshori Thayib, Bina Ilmu 1997

Mark Skousen, Sang Maestro Teori-teori ekonomi Modern, Prenada 2005

Winardi, Kamus Ekonomi (inggris – Indonesia), Alumni 1996

Adiwarman karim, Ekonomi Mikro Islami, RajaGrafindo edisi ketiga 2007

Didin S. Damanhuri, Tinjauan Kritis Idiologi Liberalisme dan Sosialisme, Badan Pendidikan dan Pelatihan Departemen Dalam Negeri.

Said Sa’ad Marthon, Ekonomi Islam di tengah krisis ekonomi global, Zikrul 2004

Monzer Kahf, Ekonomi Islam (telaah analitik terhadap fungsi system ekonomi Islam), Pustaka Pelajar

Ikhwan Hamdani, Sistem Pasar: Pengawasan Ekonomi (hisbah) dalam Perspektif Ekonmi Islam, Nur Insani

Sadono Sukirno, Pengantar Teori Mikroekonomi, Rajawali Pers edisi ketiga

Syamsuddin, aunul ma’bud

Delliarnov, Sejarah pemikiran ekonomi,

Ibnu taimiyah, majmu fatawa,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>